Rabu, 23 Maret 2011

Studi Media - Hegemoni

1.      Hegemoni

Konsep Hegemoni:
Istilah hegemoni berasal dari istilah yunani, hegeisthai (to lead). Gramsci (1891-1937) merupakan tokoh yang terkenal dengan analisa hegemoninya. Analisa Gramsci merupakan usaha perbaikan terhadap konsep determinisme ekonomi dan dialektika sejarah Karl Marx (lihat Das Capital Marx). Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa disini memiliki arti luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah).
Hegemoni bisa didefinisikan sebagai: dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense).
Dalam hegemoni, kelompok yang mendominasi berhasil mempengaruhi kelompok yang didominasi untuk menerima nilai-nilai moral, politik, dan budaya dari kelompok dominan (the ruling party, kelompok yang berkuasa). Hegemoni diterima sebagai sesuatu yang wajar, sehingga ideologi kelompok dominan dapat menyebar dan dipraktekkan. Nilai-nilai dan ideologi hegemoni ini diperjuangkan dan dipertahankan oleh pihak dominan sedemikian sehingga pihak yang didominasi tetap diam dan taat terhadap kepemimpinan kelompok penguasa. Hegemoni bisa dilihat sebagai strategi untuk mempertahankan kekuasaan.

Hegemoni Media                                     
            Pengaruh media terhadap kehidupan masyarakat pada saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Tidak hanya dalam skala jumlah media yang bertambah pesat namun dari segi kualitas media yang semakin cerdas dalam menampilkan pesan-pesan tertentu yang dikemas secara kreatif. Akibatnya, para pemirsa semakin nyaman dengan sajian yang dihidangkan oleh media atau mungkin secara tidak sadar sudah menjadi ketagihan. Hal ini menandakan bahwa manusia pada zaman ini tidak biasa lepas dari cengkraman kekuatan media yang mempengaruhi dan lebih jauh lagi menentukan bagaimana seharusnya kita hidup di dunia ini. Media dalam hal ini menurut kami adalah sebuah alat yang dihasilkan dari ideologi tertentu guna menjajah pikiran masyarakat untuk serta merta mengikuti budaya yang disematkan melalui media.
Hegemoni media itu terjadi, apabila media masa dalam hal ini dapat mempengaruhi masyarakat atau khalayak. Di mana media itu ingin menyampaikan kepentingan- kepentingan ideologinya melewati sajian-sajian yang mereka tampilkan pada medianya, jika apa yang disajikannya itu berhasil membuat publik sama dengan apa yang media tersebut harapkan, maka disana telah terjadi sebuah hegemoni media.
            Banyak contoh kasus yang terjadi berkaitan dengan hegemoni media ini. Salah satu kasusnya yaitu kasus penulis George Junus Adijtondro yang menulis buku “Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century". Dalam kasus penarikan buku “Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century", karya George Junus Adijtondro ini, terihat sangat jelas sekali Penguasa melakukan hegemoni kepada kelompok oposisi yang satu ini. Oposisi sendiri adalah kelompok yang mengawasi kebijakan dari penguasa, selain itu  Oposisi juga bertindak sebagai perlawanan terhadap kelompok dominan atau penguasa yang kemudian akan menghasilkan negosiasi. Dan apabila pihak penguasa tidak menerima hasil negosiasi tersebut, maka penguasa itu melakukan suatu hegemoni, atau bertindak semena-mena terhadap kelompok oposisi tersebut dengan menyalahgunakan kekuasaannya.             Contoh di Indonesia, oposisi bukan saja datang dari partai politik atau DPR saja. Pada kasus buku kontroversial seputar skandal Bank Century  yang menjadi oposisi adalah pengarang buku “Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century” tersebut, yaitu George Junus Adijtondro. Disini Ia berposisi sebagai Oposisi dan bernegosiasi dengan Penguasa Namun  apa yang terjadi sekarang? Buku tersebut di tarik dari pasaran oleh kelompok Pro dengan Penguasa. Disini jelas sekali bahwa Penguasa melakukan Hegemoni terhadap kelompok Oposisi. Buku tersebut dianggap berbahaya bagi kelangsungan kekuasaan sang Penguasa tersebut. Terlepas dari apa isi buku tersebut memang sesuai fakta atau cuma omong kosong belaka mengenai keterlibatan Cikeas and the gank dalam skandal Bank Century, namun pertanyaannya sekarang mengapa peredaran buku tersebut di pasaran telah hilang begitu saja?
            Media sendiri berperan dalam membuat suatu hegemoni tentang kasus tersebut. Informasi yang gencar saat itu bahwa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ‘kebakaran jenggot’ setelah terbitnya buku tersebut. Dan opini  serta pemikiranyang tercipta di masyarakat adalah orang-orang di seputar SBY lah yang bertanggung jawab atas skandal Bank Century. Tetapi ujungnya kasus ini tidak ada penyelesaian yang jelas. Seper biasa.

Referensi:

Studi Media - Kapitalisme


1.      Kapitalisme

Kapitalisme adalah suatu paham yang memandang bahwa pemilik modal melakukan usaha untuk menggapai keuntungan sebesar-besarnya. Kondisi pasar sepenuhnya diserahkan pada mekanisme penawaran dan permintaan tanpa ada sedikitpun intervensi dari pemerintah. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas sementara biarkan pasar bergerak menurut hukum  pasar semata.
Dalam kaitannya dengan media, kapitalisme merupakan suatu hambatan besar,dimana pemilik modal memandang media sebagai tool of business semata sehingga mengabaikan hakekat sesungguhnya dari media sebagai institusi sosial ,politik,dan budaya. Media kapitalis berorientasi pada penguasaan pasar iklan yang merupakan sumber uang dari media, walau dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan masyarakat seperti konten yang tidak pantas, informasi palsu,dll. Akibat dari praktik kapitalisme media,maka fungsi media bergeser menjadi sebuah tool of business semata, tanpa memperhatikan aspek-aspek media dan fungsi utama media yaitu menjadi alat penyebar informasi yang benar kepada masyarakat. Selain itu, Media menjadi berpihak pada para pemilik modal, bukan kepada kebenaran. Hal ini tentu merugikan kepentingan publik dimana media yang seharusnya memberitakan sesuatu yang benar, menjadi memberitakan apa yang sesuai dengan keinginan para pemilik modal.
Selain itu, pengaruh pasar kapitalistik juga memperkuat praktik konglomerasi. Untuk menguasai pasar, maka tidak mungkin hanya mengandalkan satu instansi saja. Oleh karena itu lahirlah praktik konglomerasi media yang bertujuan untuk mengamankan porsi iklan dalam pasar iklan media. Praktik ini sebenarnya mengarah pada satu tujuan,yaitu dominasi terhadap media lainnya. Dengan adanya dominasi, maka secara otomatis branding media akan lebih mudah dilakukan. Dan dengan branding yang kuat, maka para pengiklan tidak mungkin ragu untuk memasang iklannya di media tersebut. Dan pada akhirnya media tersebut memiliki kekuatan untuk menguasai pasar iklan. Dengan praktik seperti ini, maka dapat dipastikan akan banyak uang yang dihasilkan oleh media tersebut sesuai dengan filosofi dari kapitalisme itu sendiri,yaitu mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
Media yang telah menjadi ‘tools of business’ membuat kepentingan pemilik modal yang akan diperhatikan. Dan di Indonesia beberapa pemilik modal dari media massa adalah politikus atau orang penting dengan posisi penting di Indonesia. Otomatis dengan begitu, media massa menjadi setengah-setengah untuk mengontrol dan mengawasi pemerintah atau golongan tertentu. Karena mau tidak mau pengaruh pemilik modal terhadap isi berita dan informasi terasa dalam pergerakan sebuah media massa dalam menyikapi isu tertentu. Misalkan, dalam kasus musibah lumpur di Sidoarjo, media TV One lebih suka menyebutnya sebagai Lumpur Sidoarjo, sedangkan Metro TV lebih bersemangat menyebutnya sebagai Lumpur Lapindo. Sudut pandang kedua media massa tersebut pun berbeda dalam menyikapinya. Padahal ini adalah kepentingan rakyat yang sebenarnya tidak peduli siapa yang salah dan benar karena yang mereka mau adalah keadaan yang lebih baik setelah kejadian tersebut.

Studi Media - Ideologi


1.      Ideologi

Ideologi merupakan suatu kumpulan dari ide atau gagasan. Ideologi dapat dianggap sebagai visi, sebagai cara memandang dunia (weltanschauung). Ideologi pun merupakan sebuah sistem pemikiran abstrak yang diterapkan pada berbagai persoalan sehingga membuat konsep abstrak ini menjadi inti dalam dunia sosial. Terkadang ideologi selalu diagungkan demi menggapai tujuan suatu ideologi. Secara implisit setiap pemikiran mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit. Tujuan utama di balik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif.
Ideologi dalam konteks media, para ahli menterjemahkan ideologi sebagai sistem makna yang membantu menjelaskan dan mendefinisikan realitas dan membantu dalam membuat nilai-nilai pembenaran atas realitas itu. Ideologi sangatlah dekat dan tidak lepas dengan konsep-konsep seperti “pandangan dunia”, “sistem keyakinan” dan “nilai-nilai”. Sebenarnya makna ideologi lebih luas dari konsep-konsep itu. Ideologi bukan hanya untuk meyakini realitas, namun juga cara dasar untuk mendefinisikan realitas. Ideologi menjadi suatu jalur atau keyakinan yang berdampak pada pesan-pesan yang  seragam dalam suatu media. Pesan-pesan dalam suatu media akan merepresentasikan ideologi apa yang dianut oleh media tersebut
Mari mengkaji lebih dalam tentang ideologi dalam paper AG. Eka Wenats Wuryanta yang berjudul Wacana Media Massa: Pertarungan Ideologi – Hegemoni :
Ideologi mempunyai dua pengertian yang berbeda. Pengertian dalam tataran positif menyatakan bahwa ideologi dipersepsikan sebagai realitas pandangan dunia (world-view, welttanschaung) yang menyatakan sistem nilai kelompok atau komunitas sosial tertentu untuk melegitimasikan kepentingannya. Sementara itu, pengertian dalam tataran negatif menyatakan bahwa ideologi dipersepsikan sebagai realitas kesadaran palsu. Dalam arti, bahwa ideologi merupakan sarana manipulatif dan deceptive pemahaman manusia mengenai ralitas sosial (Karl Mannheim, 1991).
Ideologi mempunyai tiga ragam. Pertama, ideologi dalam arti penuh. Ragam ideologi dalam arti penuh bermakna bawha ideologi merupakan ajaran, pandangan dunia, filsafat sejarah yang memerlukan tujuan-tujuan dan norma sosial politik - yang diklaim sebagai kebenaran mutlak yang tidak boleh dipertanyakan lagi serta sekaligus sudah mapan dan harus dituruti secara penuh-paripurna. Ideologi arti penuh berarti ideologi yang mempunyai status moral absolut dan menuntut ketaatan mutlak. Ragam ideologi tertutup ini diambil dari konsiderasi elit yang harus dipacu, dipropagandakan dan dipublikasikan (Franz Magnis, 2000: 232-235).
Ragam kedua adalah ragam ideologi yang terbuka. Ideologi terbuka lebih merupakan cita-cita etika politik yang terbuka pada pluralitas operasionalisasi tindakan konkretnya. Justru cita-cita atau nilai tersebut menjamin kebebasan masyarakat untuk melaksanakan cita-cita tersebut. Dalam ideologi terbuka, cita-cita dilaksanakan tanpa ada paksaan.                Ragam ketiga, ideologi implisit. Ideologi implisit adalah keyakinan atau sistem nilai hakekat realitas dan cara bertindak masyarakat yang tidak dirumuskan secara eksplisit. Meskipun implisit, ideologi tersebut diyakini dan diresapi dalam seluruh gaya hidup, merasa, berpikir bahkan bermasyarakat.Ideologi biasanya sulit untuk dibahasakan, namun tercermin dalam perbuatan seseorang atau kelompok begitupun dalam suatu media massa.
  Dalam ilmu sosial, ideologi mengalami banyak pemaknaan. Ringkasnya, ideologi dapat dilihat dalam tiga acuan pokok.                                                                                       Pertama, ideologi sebagai realitas yang bermakna netral. Artinya, ideologi dimaknai sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai dan sikap dasar rohani suatu kelompok sosial dan komunitas kebudayaan tertentu.
   Kedua, ideologi sebagai kesadaran palsu (false consciousness). Pengertaian ideologi sebagai kesadaran palsu menyatakan bahwa ideologi merupakan sistem berpikir yang sudah terdistorsi, baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Dalam pengertian ini, makna ideologi justru bernilai negatif. Artinya, ideologi merupakan perangkat claim yang tidak wajar atau sebuah teori yang tidak berorientasi pada nilai kebenaran, melainkan sudah mengambil sikap berpihak pada kepentingan tertentu.
Ketiga, ideologi sebagai sistem keyakinan yang tidak rasional. Artinya, bahwa ideologi merupakan hanya sekedar rangkaian sistem kepercayaan dan keyakinan subjektif (belief system). Konsekuensinya adalah ideologi tidak membuka kemungkinan pertanggungjawaban rasional dan objektif (Magnis, 1992:230-231).


Sumber :
-Wacana Media Massa: Pertarungan Ideologi - Hegemoni (AG. Eka Wenats Wuryanta)
-Novel Ali dalam http://cetak.kompas.com/read/2010/04/15/04533157/ideologi.media.massa

Studi Media - Dominasi


1.      Dominasi
           
Secara harafiah, dominasi berarti pemaksaan kerangka pandangan secara langsung terhadap kelas yang lebih lemah. Dengan kata lain, apabila ada usaha penanaman pandangan kepada seseorang, dan seseorang tersebut menerima pandangan tersebut, maka saat itu tengah terjadi dominasi dari pihak pemilik pandangan ke pihak yang menerima pandangan tersebut. Bagaimana konsep “dominasi” ini jika dikaitkan dalam dunia media?
Dalam buku Graeme Burton, “Yang Tersembunyi Di Balik Media”, Burton menyebutkan bahwa media memiliki kekuatan untuk membentuk pengetahuan kita (khalayak media) tentang dunia dan media mampu menjadi sumber utama dari berbagai ide dan opini. Burton juga menyebutkan efek-efek yang media dapat timbulkan, yaitu antara lain (2008:233-234) :
a.       Perubahan sikap :
Media mampu mengubah cara pikir orang-orang terhadap dunia sehingga mereka mengubah sikap mereka terhadap orang lain dan terhadap suatu isu. Contohnya, media memberitakan bahwa saat ini polusi udara meningkat dan salah satu penyebab meningkatnya polusi adalah karena peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Akibatnya, kini mulai ada program “car-free-day” , dimana kendaraan bermotor tidak diperbolehkan untuk memasuki kawasan tertentu. Hal ini ditujukan untuk mengurangi tingkat polusi. Hal ini nyatanya efektif diberlakukan di Jakarta dengan berkurangnya polusi udara dimana car free day tersebut diberlakukan.
b.      Perubahan kognitif :
Media mampu mengubah cara seseorang berpikir terhadap suatu hal dan menilai berbagai hal. Contohnya, media menyoroti gaya penulisan anak-anak muda yang kerap mengirim sms dengan menggunakan kombinasi huruf besar, huruf kecil, dan angka (contohnya : c3muN9uUdH eaa). Kemudian fenomena tersebut diberi nama “fenomena alay”, maka setiap kali ada orang yang menulis dengan gaya penulisan seperti itu, akan disebut alay. Padahal, mungkin, sebelumnya orang menganggap itu biasa saja dan bahkan tidak tahu sebutan “alay”. Namun, karena media mengangkat topik tersebut, khalayak menjadi tahu dan turut menilai hal tersebut alay, sesuai dengan apa yang media konstruksikan. Media Internet  khusunya situs jejaring sosial sangat berperan dalam kasus diatas



c.       Kepanikan Moral/Reaksi Kolektif
Media mampu memunculkan kecemasan terhadap suatu isu. Contohnya, ketika media menyiarkan berita tentang susu formula yang mengadung bakteri sakazaki, maka sebagian besar masyarakat mulai resah dan takut menggunakan susu formula, meskipun sebenarnya, tidak semua susu formula diduga mengandung bakteri ini. Hingga saat ini kasus tersebut asih menggantung dan belum ada penyelesaian yang pasti. Dan khalayak semakin cemas ketika pihak peneliti (IPB) belum juga mengumumkan susu merk apa saja yang tercemar.
d.      Tanggapan emosional/Reaksi Personal
Media mampu memengaruhi orang-orang dengan membangkitkan reaksi emosional dari khalayak. Contohnya, media kerap kali menggambarkan wanita cantik sebagai wanita yang memiliki kulit putih, rambut panjang berkilau, tinggi dan kurus. Hal ini mengakibatkan sebagian besar wanita berpikir jika mereka tidak cantik, lantaran mereka tidak memiliki ciri-ciri wanita cantik yang digambarkan oleh sebagian besar media tersebut. Sebagian wanita yang merasa dirinya tidak cantik itu mulai takut dan minder dan mulai menggunakan berbagai produk kecantikan agar dirinya serupa dengan gambaran wanita cantik versi media. Hal tersebut tercontoh pada sinetron-sinetron yang ada di televisi.
e.       Penetapan Agenda
Media mampu merekonstruksi pandangan kita terhadap isu mana yang penting dan isu mana yang tidak begitu penting. Hal ini dilakukan media dengan memberikan penekanan ataupun pengulangan terhadap suatu isu, sehingga khalayak berpikir isu tersebut penting. Sebagai contoh, ketika terjadi peristiwa kekerasan oleh Ahmadiyah. Media mulai meberitakan isu tersebut secara terus-menerus, dan bahkan menjadikan isu tersebut sebagai headline. Akibatnya, masyarakat mulai berpikir bahwa isu tersebut penting untuk diberi perhatian, dan untuk sementara melupakan isu Bank Century dan isu-isu lainnya. Dari dahulu hingga kini penetapan agenda oleh media massa masih terus berlangsung dan cukup efektif untuk mengalihkan isu.
f.       Sosialisasi
Media mampu mensosialisasikan norma-norma atau perilaku-perilaku yang diterima dalam suatu lingkungan sosial. Contohnya, adanya iklan layanan masyarakat tentang pelarangan pembajakan dalam film-film yang ditayangkan di bioskop yang menyebabkan masyarakat tahu bahwa pembajakan dilarang di negara kita, dan ada peraturan yang membahas tentang ganjaran yang dapat diberikan pada pelaku-pelaku pembajakan.
g.      Kontrol Sosial
Media mampu mengontrol audiens untuk mengemukakan argumen-argumen yang menyokong konsensus, hukum, dan tatanan, dengan menekan berbagai argumen dan materi yang mempertanyakan cara-cara masyarakat kita beroperasi. Contohnya, program “Suara Anda’ di Metro TV sebagai salah satu bentuk media melakukan kontrol sosial. Masyarakat bebas berpendapat mengenai berita yang mereka pilih.
h.      Mendefinisikan Realitas
Media mampu mendefinisikan realitas sosial bagi khalayak. Ketika media mengatakan, baik secara eksplisit maupun secara implisit, bahwa wanita yang cantik adalah wanita yang memiliki kulit yang putih, rambut yang panjang dan berkilau, tinggi, kurus, dan memiliki wajah tanpa noda, maka gambaran wanita cantik itu akan menjadi definisi wanita cantik sesungguhnya bagi khalayak.
i.        Penyokongan terhadap Ideologi Dominan
Media memiliki efek menyokong cara dominan dalam memandang dunia, pandangan yang dominan tentang hubungan-hubungan kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat, dan pandangan dominan tentang bagaimana berbagai hal dijalankan. Ketika sebagian besar masyarakat menilai bahwa perilaku kekerasan Ahmadiyah salah, dan media turut memberitakan hal-hal yang seolah-olah membuat penilaian terhadap Ahmadiyah semakin negatif, maka khalayak akan semakin memandang perilaku Ahmadiyah itu negatif. Sesungguhnya, saat itu, media tengah menyokong pola pandang dominan dari sekelompok orang dan menanamkannya pada orang lain yang mungkin tidak memiliki pola pandang terhadap hal tersebut.

Dari efek-efek dan penjelasan yang diberikan di atas, dapat terlihat bagaimana pengaruh media sangat kuat, dan bahkan mampu mendominasi pola pikir dan perilaku masyarakat. Ketika media me-highlight suatu isu tertentu, maka masyarakat akan memandang isu tersebut penting. Demikianlah cara media mendominasi. Media menanamkan pola pikir tertentu, dengan cara memberikan penekanan dan pengulangan, maka disadari ataupun tidak, maka pola pikir ini akan diterima bahkan tertanam dalam khalayak.
Saat ini, di Indonesia, sebagian media dimiliki oleh pelaku-pelaku politik. Maka dari itu, ke-netral-an media mulai dipertanyakan. Apakah, pelaku politik, sekaligus pemilik media ini, mampu menghadirkan program yang tidak memihak pada suatu pihak tertentu ataupun mendukung pola pikir sang pemilik media tersebut.
Dari beberapa kasus belakangan, terlihat bahwa media berusaha mendominasi dan menanamkan nilai-nilai tertentu dalam masyarakat. Sebagai contoh, pada saat pemilihan DPP Golkar, berita-berita di TV One lebih condong untuk menopang popularitas Abu Rizal Bakrie, sementara Metro TV menghadirkan berita yang dibumbui pandangan-pandangan Surya Paloh. Bahkan saat Abu Rizal Bakrie dinyatakan menang, Metro TV membuat program khusus yang berisi wawancara dengan Surya Paloh mengenai “pertarungannya” dengan Abu Rizal Bakrie. Dari peristiwa ini terlihat bahwa, media berusaha menanamkan pola pikir kepada masyarakat, atau dengan kata lain, berusaha mendominasi masyarakat.
Konsep dominasi media massa ini dinilai mampu menghadirkan hegemoni. Media dianggap sebagai alat yang digunakan untuk menanamkan nilai-nilai kepada masyarakat dari suatu pihak tertentu, sehingga pada akhirnya masyarakat mengikuti pola pikir tersebut, bahkan melakukan suatu tindakan sebagai bentuk nyata dari pola pikir yang tertanam tersebut. Ini lah hegemoni.
Sebenarnya dari konsep pemikiran tentang dominasi oleh media massa seharusnya bisa ke arah positif jika fungsi-fungsi seperti untuk mendidik, menghibur, mempersuasi dan menginformasikan dilaksanakan dengan baik tanpa adanya intimidasi atau kepentingan. Ketika media massa masuk ke ranah industri maka yang berbicara adalah kepentingan ekonomi, dan ketika media massa juga masuk ke ranah politik maka yang berkuasa adalah kepentingan politik. Dan itulah yang terjadi saat ini di Indonesia. Mungkin apabila media massa menjadi industri besar adalah hal yang tidak masalah justru dapat menguntungkan untuk menyedot lapangan pekerjaan. Namun saat sudah diintimidasi politik kepentingan, maka fungsi media massa untuk mengontrol dan mengawasi pemerintah menjadi mandul.

Sumber :
Burton, Graeme. 2008. Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta : Jalasutra.